Archives

gravatar

Koleksi Photo Seksi Trio Jablay, Saingan Trio Macan

Ketemu photo sexy, hot, dan menantang di internet, dan dari sumber tersebut disebutkan foto ini adalah foto Trio Zablay. Sekilas penampilan Trio Zablay tidak jauh berbeda dengan Trio Macan, sama-sama sexy, hot, dan selalu tampil vulgar.
Bagi anda yang penasaran ingin melihat foto Trio Zablay, berikut beberapa fotonya yang diperoleh blog foto artis dari sumber situs internet
















»»  READMORE...
gravatar

MENGAPA RODA PESAWAT DIBUAT KECIL?

 
 
Ban pesawat terbang dirancang secara khusus untuk mampu menahan beban yang berat, memberikan rasa nyaman pada penumpang, dan bertahan ketika pesawat bergerak di landasan dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Sebenarnya, ukuran ban pesawat terbang hampir sama dengan ukuran ban mobil. Memang ukuran ini tampak kecil bila dibandingkan dengan ukuran pesawat. Mengapa dipilih ban kecil, sebab ban dengan ukuran yang terlalu besar menyulitkan ban tersebut menahan torsi berat pesawat.
 

Ban pesawat bukan ban yang padat. Di dalamnya ada gas/udara dengan tekanan yang cukup besar, sekitar enam kali lebih besar dari tekanan ban mobil penumpang. Tekanan sebesar ini dibutuhkan untuk menahan berat pesawat yang besar. Kelenturan atau deflection (perbedaan tinggi ban sebelum dan sesudah dipasang) ban pesawat sekitar 2 - 3 kali lebih besar dari ban mobil.

Kelenturan yang tinggi ini membuat penumpang pesawat lebih nyaman ketika pesawat mendarat. Ban pesawat juga diharapkan mampu bertahan ketika pesawat bergerak dengan kecepatan sekitar 340 km/jam atau sekitar dua kali kecepatan maksimum mobil. 
 
 
 
 
 
[forum vivanews]
»»  READMORE...
gravatar

GEMPA JEPANG MEMPERCEPAT PERPUTARAN BUMI

Gempa berkekuatan 9 Skala Richter (SR) yang terjadi di Jepang Jumat (11/3/2011) menyebabkan distribusi massa di Bumi berubah karena pergerakan lempeng dan runtuhnya batuan di kulit Bumi. Hal tersebut berpengaruh terhadap kecepatan rotasi bumi menjadi sedikit lebih cepat dan manusia mengalami hari yang lebih singkat.

"Dengan berubahnya distribusi massa di Bumi, gempa Jepang mengakibatkan Bumi berotasi lebih cepat, mempersingkat hari sebanyak 1,8 mikrodetik," kata Richard Gross, geofisikawan di Laboratorium Propulsi Jet milik NASA di Pasadena, AS, seperti dilansir Space.com. Analisi sebelumnya gempa tersebut hanya berpengaruh mempercepat rotasi 1,6 mikrodetik, namun data terakhir menunjukkan kalau kekuatannya lebih besar.

Namun, pengaruh tersebut jauh lebih kecil ketimbang variasi tahunan lama rotasi Bumi. Panjang satu hari atau waktu rotasi Bumi adalah 24 jam atau 86.400 detik. Panjang hari selama ini bervariasi sekitar 1000 mikrodetik bergantung pada variasi musim distribusi massa Bumi.

Perubahan waktu rotasi akibat gempa seperti kali ini bukanlah yang pertama terjadi. Gempa Aceh tahun 2004 misalnya, mempersingkat hari sebanyak 6,8 mikrodetik. Sementara gempa di Chile mempersingkat hari sebanyak 1,26 mikrodetik.

Gross mengungkapkan, perubahan ini belum selesai. Gempa susulan juga bisa mengubah waktu rotasi. "Gempa susulan juga bisa mengubah waktu rotasi. Namun karena kekuatan gempa susulan lebih kecil, pengaruhnya juga lebih kecil," jelasnya.

Secara teori, Gross mengungkapkan, apapun yang berdampak pada distribusi massa Bumi akan berdampak pada rotasi. Gempa dilaporkan mempercepat sedikit gerakan rotasi bumi yang biasanya sekitar 1.604 km/jam.

Meski demikian, ahli astrofisika dari Indonesia yang bekerja di Max Planck Institute for Astronomy, Johny Setiawan, tak terlalu yakin dengan pendapat itu. Menurutnya, panjang pendeknya hari hanya bisa terjadi bila ada efek dari luar bumi.

"Kalau Bumi kejatuhan asteroid sehingga massanya bertambah, pasti akan berubah panjang pendeknya hari," lanjutnya. Menurutnya, jika massa bumi tetap sama maka harusnya kecepatan rotasi dan lamanya rotasi juga akan tetap sama.
 
 
 
[kompas.com]
»»  READMORE...
gravatar

Omed-omedan: Tradisi Ciuman di Bali (FOTO)


tradisi omed omedan. Di Bali, tepatnya di desa Sesetan, Denpasar, sehari setelah hari raya Nyepi selalu menggelar tradisi unik yang hanya satu-satunya di Pulau Dewata. Banjar Kaja yang terletak di sebelah selatan Kota Denpasar ini memiliki tradisi omed-omedan atau festival ciuman antar pemuda dan pemudi banjar setempat. Tahun 2011 ini sedikitnya 50 muda-mudi yang telah beranjak dewasa turut serta dalam festival warisan leluhur ini. Festival diawali dengan sembahyang bersama di pura banjar dan seluruh peserta wajib mengikuti prosesi ini supaya diberi kelancaran dan keselamatan saat ciuman nanti. Seusai sembahyang para muda-mudi ini dibagi dua kelompok. Yang pertama adalah kelompok pria dan satunya lagi adalah kelompok wanita.

Para "tetua" atau orang yang dituakan di desa tersebut menjadi "wasit" festival ciuman ini. Jika para "tetua" memberi aba-aba mulai, kedua kelompok yang saling berhadap-hadapan ini menunjuk salah satu wakilnya untuk diarak ke depan dan beradu ciuman dengan wakil dari kelompok lain. Biasanya jika sudah terjadi adu mulut, peserta pria lebih bernafsu melumat bibir "lawan"-nya yang tampak malu-malu tapi mau.

Untuk menghindari ciuman semakin panas, para tetua dibantu panitia mengguyurkan air kepada seluruh peserta omed-omedan. Namun, tak hanya peserta, para penonton, fotografer dan kamerawan yang mengambil gambar terlalu dekat juga harus rela diguyur dengan air satu ember.

foto omed omedan Baku cium antar muda-mudi ini dilakukan berulang-ulang hingga "wasit" menghentikannya. Festival omed-omedan yang ditonton ribuan wisatawan dan warga ini akhirnya usai setelah berlangsung sekitar satu jam. Seluruh peserta kembali ke pura banjar untuk diperciki air tirta.

Menurut berita yang  di kutip dari Kompas, Ayu Prambandari, salah seorang peserta omed-omedan, sempat merasa canggung saat berciuman dengan peserta pria karena tidak saling kenal. ”Deg-degan sih, kan kaget dapetnya sama siapa. Kalau di sini kami tidak tahu ciuman sama siapa jadi agak canggung, kalau sama pacar kan beda," kata gadis berusia 20 tahun ini.




Ayu yang sudah 7 kali mengikuti omed-omedan ini mengaku antusias menjadi peserta karena ingin melestarikan budaya yang telah diwariskan secara turun temurun ini. "Orangtua kami dulu kan juga ikut, ini sudah adat takutnya entar kalau enggak ikut ada apa-apa," ujarnya.

Tradisi omed-omedan ini dimulai pada abad ke-17. Sebelumnya tradisi ini dilakukan saat hari raya Nyepi. Namun, pada tahun 1978 diputuskan untuk menggantinya pada saat Ngembak Geni atau sehari setelah Nyepi. "Tradisi ini hanya luapan kegembiraan teruna teruni pada saat melakukan omed-omedan di hari Ngembak Geni," kata I Gusti Ngurah Oka Putra, tokoh masyarakat Banjar Kaja.

Selain bentuk penghormatan terhadap leluhur, omed-omedan digelar untuk semakin meningkatkan rasa kesetiakawanan dan solidaritas antarwarga khususnya para pemuda dan pemudi.


[kompas]
»»  READMORE...
gravatar

NABI NUH ORANG INDONESIA? : MISTERI BENUA YANG HILANG

 
 
Kisah banjir besar Nabi Nuh, cocok dengan kajian ilmiah tenggelamnya Indonesia di masa silam dari sejumlah ilmuwan. Lantas, apakah Nabi Nuh berasal dari Indonesia?

"Saya tidak bisa bilang Nuh dari Indonesia. Walaupun Islam, Kristen dan Yahudi berbagi cerita banjir yang sama," kata peneliti dari Universitas Oxford, London, Stephen Oppenheimer dalam wawancara dengan detikcom di Hotel Salak, Bogor.

Penulis buku Eden in The East ini mengatakan kisah banjir besar tersebar luas di dunia. Namun memang kisah banjir besar paling banyak terdapat di Indonesia.

"Meski demikian, kita belum bisa menyimpulkan kisah banjir berasal dari Indonesia," kata Oppenheimer.

Hal ini disebabkan, banjir dialami di berbagai daerah di dunia pada akhir zaman es. Kisah banjir Sumeria diduga berbeda sumbernya dengan banjir di Sundaland atau Indonesia masa silam.

"Kisah banjir Sumeria diduga bersumber dari banjir di kawasan Teluk pada akhir Zaman Es, bukan Sundaland," jelas Oppenheimer.

Oleh karena itu, darimana Nabi Nuh berasal belum bisa dijawab. Kitab suci pun tidak menyebut nama negeri Nabi Nuh.

Meskipun banjir di Sundaland dianggap fakta sejarah, namun kisah banjir belum bisa dianggap berasal dari kejadian yang sama di Indonesia pada Zaman Es.

"Saya tidak punya metodologi ilmiahnya untuk aspek religi ini," tutupnya.
[detik.com]
»»  READMORE...